ILMU fIQH

Rabu, 21 Maret 20120 komentar

Pentingnya AS-Satru Dalam Sholat
Written by Al-Ustadz Abdurrahman Assegaf
Thursday, 16 December 2010 02:10

Jika seseorang hendak mendirikan sholat dianjurkan untuk menjadikan di hadapannya pembatas yang dikenal oleh para ulama dengan istilah as-Satru. As-Satru ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sholat seseorang oleh karena itu hendaknya kita selalu berusaha untuk memperhatikannya. Dalam tulisan ini kami menuliskan secara singkat penjelasan tentang as-Satru.
Dari Abu Said al-Khudri, Rasulullah bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Apabila salah seorang diantara kalian mendirikan sholat hendaklah membuat sesuatu yang menjadi satar dari manusia, jika ada seseorang yang melanggar di depan kamu hendaknya dia menahannya dan bila menolak maka bunuhlah dia sesungguhnya dia itu setan. (HR.Bukhari)

Menahan dengan mengeraskan suara, lemah lembut sedikit keras dan keras bila terlewat ditinggalkan. Untuk wanita cukup dengan tepuk tangan

Hukum Satar:

Para ulama sepakat mengatakan bahwa; Hukum Satar sunnah, karena tidak ada seorang-pun diantara mereka yang mengatakan: jika sholat tanpa menggunakan Satar batal.

Satar:

Menjadikan sesuatu di depan orang yang mendirikan sholat sehingga tidak dilewati oleh orang lain.  Jaraknya :  satu depa atau sebatas tempat sujud

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَجْعَلْ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ شَيْئًا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيَنْصِبْ عَصًا فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ عَصًا فَلْيَخْطُطْ خَطًّا ثُمَّ لَا يَضُرُّهُ مَا مَرَّ أَمَامَهُ

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasul bersabda: Apabila hendak mendirikan sholat meka hendaklah menjadikan di depan wajanya sesuatu, jika tidak ada hendaknya didirikan tongkat bila tidak ada tongkat maka hendaknya membuat garis kemudian tidak membuat  bahaya apa yang melewati di depannya. (HR.Abu Daud).

•      Bila satar-nya garis maka boleh berbentuk lurus atau melengkung

•      Hendaknya satar dari benda yang suci dan tidak bergerak serta tidak mengganggu pandangan dan para ulama memperbolehkan menjadikan orang atau binatang yang terikat sebagai satar

•       Satar-nya imam secara otomatis menjadi satar-nya makmum

•      Makruh menjadikan sesuatu yang bergambar, api atau wanita sebagai satar.

Berkata Aisyah:Aku memiliki baju/kain yang gambar

كان النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَيْهِ فَقَالَ أَخِّرِيهِ عَنِّي قَالَتْ فَأَخَّرْتُهُ فَجَعَلْتُهُ وَسَائِدَ

Nabi Muhammad hendak mendirikan sholat di depannya, beliau bersabda; letakkan dia di belakangku. Aisyah berkata: aku meletakkannya di belakang dan menjadikannya sebagai tempat duduk. (HR.Muslim)

Para ulama mengatakan: Hendaknya meletakkan satar di sebelah kanan atau kiri dan tidak tepat di depannya.

Letak Satar:

Migdad bin Dzuba’ah mengatakan:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي إِلَى عُودٍ وَلَا عَمُودٍ وَلَا شَجَرَةٍ إِلَّا جَعَلَهُ عَلَى حَاجِبِهِ الْأَيْمَنِ أَوْ الْأَيْسَرِ وَلَا يَصْمُدُ لَهُ صَمْدًا

Aku tidak pernah melihat Rasul mendirikan sholat di depan batang kayu, tiang, pohon kecuali menjadikannya di sebelah kanan atau kirinya dan tidak menjadikannya di depannya.

(HR.Abu Daud)

Hikmah Satar:

Menahan orang untuk tidak melewati di depannya yang dapat mengganggu kekhusuan, membatasi pandangan saat sholat.

Melewati Orang Sholat

Berkata Abu Jaham:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ قَالَ أَبُو النَّضْرِ لَا أَدْرِي أَقَالَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا أَوْ شَهْرًا أَوْ سَنَةً

Rasul bersabda: Seandainya yang melewati orang sholat itu mengetahui apa yang akan menimpanya niscaya berdiri hingga empat puluh lebih baik baginya dari melewati di depannya”. (HR.Bukhari), Berkata Abu Nadhar: aku tidak mengetahui empat puluh hari, bulan atau tahun.

Para ulama mengatakan: Hadits ini dikenakan kepada mereka yang melewati orang sholat yang ber-satar dan ada jalan lain untuk dilewatinya.

Imam Abu Hanifah:

•       Tidak ber-Satar, dilewati dan ada jalan lain (dosa yang sholat dan yang melewati)

•       Tidak ber-satar,  dilewati dan tidak ada jalan lain  tidak dicegah (berdosa yang sholat)

•       Ber-Satar dilewati ada jalan lain (berdosa bagi yang melewati)

Imam Syafi’i: Haram hukumnya melewati orang sholat yang ber-satar walaupun tidak ada jalan lain.

Sepakat seluruh ulama bahwa, orang yang sedang thawaf tidak mengapa untuk melewati orang yang sedang mendirikan sholat

Apakah dilewati orang dapat membatalkan sholat ?

Sepakat seluruh ulama tidak membatalkan sholat tapi dapat mengurangi pahala bagi mereka yang tidak berusaha untuk mencegahnya

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ شَيْءٌ وَادْرَءُوا مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Dari Abu Said, Rasul bersabda “Tidak ada yang dapat membatalkan sesuatu, tolaklah semampu kalian, sungguh dia itu setan”. (HR.Abu Daud)


Illustrasi Gambar
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Majelis Ta'lim - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger